You are here: Home / Corat-coret / Bayar Hutang Dulu atau Sedekah Dulu…?

Bayar Hutang Dulu atau Sedekah Dulu…?

Banyak pertanyaan sejenis seperti ini yang menandingkan pembayaran sedekah dengan pengeluaran yang lainnya. Tentunya jawaban yang diberikan bisa sangat berbeda tergantung dalam konteks apa pertanyaan ini diajukan.

Jika mengacu pada hukum syara’, maka tentunya membayar hutang itu lebih utama karena wajib hukumnya. Sedangkan bersedekah itu hukumnya sunnah sehingga prioritasnya bisa dikebelakangkan di bawah kewajiban membayar hutang.

Tapi dalam konteks pengelolaan penghasilan atau gaji setiap bulannya, dimana jumlah hutang yang dibayarkan adalah “cicilan” yang sudah fixed ditagihkan sejumlah tertentu. Maka tidak ada salahnya jika kita menghitung pembayaran zakat dan sedekah lebih dahulu sebelum pembayaran hutang.

Kenapa? Alasan pertama, karena hutang yang dibayarkan adalah dalam bentuk cicilan yang fixed. Yang jika dibayarkan zakat terlebih dahulu maupun hutang terlebih dahulu sebetulnya tidak akan terlalu banyak berpengaruh secara matematis.

Misalnya saja penghasilan 100%, maka zakatnya adalah 2,5%, lalu memiliki cicilan hutang sebesar 30%. Pembayaran zakat terlebih dahulu tidak akan membuatnya menjadi kehilangan kemampuan untuk membayar hutang kan? Karena masih ada 67,5% lagi sisa penghasilan yang belum dialokasikan.

Tapi kenapa zakat duluan…? Karena dengan membayar zakat terlebih dahulu sebelum membayar yang lainnya, kita melatih mental kaya dalam kepala kita. Dengan bersedekah (sedekah yang wajib disebut dengan zakat) terlebih dahulu kita melatih diri kita dengan mentalnya orang kaya, yaitu mental berkelimpahan. Tidak keberatan jika harus memberi pada orang lain sebelum menikmati untuk diri sendiri. Tidak takut berkurang karena member jika memiliki mental berkelimpahan.

Dan dengan berzakat menunjukkan bahwa kita bersyukur dengan rezeki yang kita terima. Menjadikan ini sebagai pembuktian bahwa kita menghargai karunia-Nya dengan menyampaikan amanat wajib menyisihkan 2,5% untuk orang lain yang lebih memerlukan. Atau lebih dari itu jika kita memiliki hati yang lebih lapang lagi.

Alasan kedua, hutang seperti apa sih dalam konteks rumah tangga jaman sekarang ini? Apakah hutang untuk bertahan hidup seperti untuk membeli makanan atau biaya berobat darurat sehingga jika tidak berhutang maka maka meninggal dunia?

Jika ya, maka wajar saja hutang seperti ini adalah hutang darurat yang pembayarannya tentu lebih utama dibanding pengeluaran lainnya. Bahkan pembayaran zakat menjadi gugur kewajibannya jika masih memiliki hutang seperti ini. Karena jika terpaksa berhutang untuk kebutuhan darurat seperti itu, artinya kita berada dalam kondisi miskin.

Tapi sepertinya sebagian besar hutang rumah tangga di zaman sekarang bukanlah hutang seperti itu. Hutang terjadi karena pembelian rumah secara angsuran melalui bank, hutang kartu kredit yang digunakan untuk membeli ini dan itu yang sekunder atau tersier. Bahkan sebagian hutang adalah untuk cicilan HP, TV layar datar, dan sebagainya.

Apa masih pantas kita berhutang seperti ini lalu mengatakan… karena masih banyak hutang, maka saya harus membayar hutang terlebih dahulu bahkan tidak diwajibkan lagi membayar zakat jika sebagian besar pengeluaran saya digunakan untuk membayar hutang tersebut. Masih pantas…?

Saya rasa tidak. Karena sebagian besar hutang yang ditumpuk itu adalah “memindahkan” biaya hidup di masa depan untuk dinikmati sekarang, lalu dibayar bertahap setiap bulan. Jadi artinya, yang disebut dengan pembayaran hutang ini adalah juga biaya hidup yang dipindahkan jadwal pembayarannya.

Kalau untuk kesenangan di masa depan berani dipindahkan di masa sekarang karena yakin bisa membayarnya di kemudian hari, maka pantas sekali jika orang-orang seperti ini disebut sebagai orang mampu, dan diwajibkan untuk membayar zakat jika penghasilannya sudah melebihi nishab.

Nah, itulah sebabnya, dalam konteks ini, prioritas pengeluarannya adalah bayar zakat dulu, baru kemudian bayar hutang, saving, lalu shopping.

Setuju apa setuju….?

Sumber : http://ahmadgozali.com/bayar-hutang-dulu-atau-sedekah-dulu/

About netadmin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top